Memiliki Anak dalam Islam: Amanah Suci, Tanggung Jawab Seumur Hidup, dan Jalan Menuju Jannah

Tahiru Nasuru··19 mnt baca
Memiliki Anak dalam Islam: Amanah Suci, Tanggung Jawab Seumur Hidup, dan Jalan Menuju Jannah

Pendahuluan: Anak sebagai Amanah dari Allah

Memiliki anak dalam Islam bukan sekadar impian pribadi, harapan budaya, atau tahap alami dalam kehidupan pernikahan. Ia adalah sebuah amanah, sebuah titipan suci dari Allah ﷻ. Seorang anak tidak sekadar lahir ke dalam sebuah rumah tangga; ia dititipkan kepadanya. Titipan ini mencakup tubuh, hati, akal, akhlak, agama, dan arah hidupnya menuju keabadian.

Islam memandang peran sebagai orang tua dengan sangat serius. Di dalamnya ada rahmat, kebahagiaan, kelembutan, keletihan, pengorbanan, dan pahala. Namun, ia juga memuat pertanggungjawaban. Orang tua tidak hanya bertanggung jawab memberi makan, pakaian, tempat tinggal, dan pendidikan kepada anak-anak mereka. Mereka juga bertanggung jawab membimbing mereka menuju Allah, mengajarkan kebenaran kepada mereka, melindungi mereka dari kerusakan, dan membantu mereka tumbuh di atas Islam.

Allah ﷻ memerintahkan orang-orang beriman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu...”
Qur’an 66:6 (Quran.com)

Ayat ini seharusnya mengguncang hati setiap orang tua. Ayat ini mengajarkan bahwa keluarga bukan sekadar satuan sosial; ia adalah tanggung jawab spiritual. Orang tua Muslim harus bertanya: Apakah anak ini dibesarkan hanya untuk keberhasilan dunia, atau untuk Jannah?

Pandangan Islam tentang Peran Orang Tua

Peran sebagai orang tua dalam Islam bermula dari niat. Seorang Muslim tidak memandang anak sebagai trofi, pelengkap, atau bukti keberhasilan sosial. Anak adalah karunia dari Allah, tetapi mereka juga ujian. Mereka membawa kebahagiaan, tetapi juga menyingkap kesabaran. Mereka membawa cinta, tetapi juga menuntut pengorbanan. Mereka melembutkan hati, namun sekaligus menampakkan keegoisan, kemarahan, kelalaian, dan kelemahan.

Orang tua yang berhasil dalam Islam bukan sekadar yang anaknya menjadi kaya, terkenal, atau berprestasi secara akademis. Keberhasilan sejati adalah ketika anak mengenal Allah, beribadah hanya kepada-Nya, mengikuti Rasulullah ﷺ, menghormati hak-hak orang lain, berbakti kepada orang tua, dan hidup dengan takwa.

Ini bukan berarti pendidikan duniawi diabaikan. Islam mendorong ilmu yang bermanfaat dan keunggulan. Namun, orang tua Muslim memahami bahwa hubungan anak dengan Allah lebih besar daripada sertifikat, karier, atau reputasi sosial apa pun.

Anak sebagai Nikmat dan Ujian

Anak termasuk perhiasan kehidupan dunia, tetapi mereka juga merupakan ujian. Mereka menguji prioritas orang tua. Mereka menguji apakah orang tua benar-benar meyakini bahwa akhirat lebih penting daripada dunia. Mereka menguji apakah orang tua akan mengorbankan kenyamanan, waktu, harta, dan ego demi Allah.

Seorang anak dapat menjadi jalan menuju pahala, terutama bila dibesarkan di atas kesalehan. Nabi ﷺ mengajarkan bahwa ketika seseorang meninggal, amalnya terputus kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya. Hal ini diriwayatkan secara sahih dalam Sahih Muslim 1631. (Abuamina Elias)

Ini berarti bahwa pengasuhan yang saleh dapat terus memberi manfaat bagi seseorang bahkan setelah kematian. Lama setelah orang tua masuk ke dalam kubur, seorang anak bisa mengangkat tangannya dan berkata, “Ya Allah, ampunilah kedua orang tuaku.” Harta apa yang lebih berharga daripada itu?

Mempersiapkan Anak Sebelum Menikah

Persiapan untuk memiliki anak dimulai sebelum kehamilan. Bahkan, ia dimulai sebelum pernikahan. Orang yang dipilih sebagai pasangan bisa menjadi ayah atau ibu bagi anak-anak di masa depan. Ini bukan perkara kecil.

Pasangan bukan sekadar teman hidup. Pasangan menjadi bagian dari dunia pertama seorang anak. Anak akan memperhatikan salat, ucapan, akhlak, kemarahan, kemurahan hati, kejujuran, rasa malu, dan hubungan orang itu dengan Allah. Pasangan yang saleh dapat membantu membangun rumah yang penuh sakinah dan takwa. Pasangan yang lalai dapat membuat pendidikan agama menjadi jauh lebih sulit.

Karena itu, kaum Muslimin tidak seharusnya memilih pasangan nikah hanya karena kecantikan, kekayaan, status sosial, suku, kebangsaan, atau keberhasilan profesional. Hal-hal ini mungkin ada tempatnya, tetapi tidak dapat menggantikan agama.

Memilih Pasangan yang Saleh

Pasangan yang saleh adalah salah satu persiapan terbesar untuk melahirkan anak-anak yang saleh. Pasangan seperti itu tidak sempurna, tetapi ia takut kepada Allah. Pasangan yang saleh memahami pertanggungjawaban. Pasangan yang saleh menghargai yang halal, salat, rasa malu, kejujuran, dan adab Islami.

Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari. Jika mereka melihat orang tua salat, berdoa, berbicara jujur, menjauhi yang haram, dan bertobat setelah berbuat salah, Islam menjadi nyata bagi mereka. Jika mereka melihat Islam hanya disebut saat ceramah tetapi diabaikan dalam kehidupan sehari-hari, mereka mungkin belajar pertentangan alih-alih keyakinan.

Rumah tangga Muslim tidak boleh dibangun hanya di atas penampilan. Ia harus dibangun di atas takwa.

Membangun Rumah di Atas Takwa

Rumah yang indah belum tentu rumah yang diberkahi. Sebuah rumah bisa memiliki perabot elegan, hiasan mahal, dan kenyamanan modern, namun tandus secara spiritual. Rumah lain mungkin sederhana, tetapi dipenuhi Al-Qur’an, salat, zikir, rahmat, dan syukur.

Rumah yang kedua lebih utama.

Anak-anak perlu tumbuh dalam suasana yang membuat Allah diingat secara alami. Mereka seharusnya mendengar “Alhamdulillah” dengan tulus. Mereka seharusnya melihat orang tua mereka salat. Mereka seharusnya menyaksikan tobat setelah kesalahan. Mereka seharusnya belajar bahwa Islam bukan pertunjukan untuk orang luar, melainkan jalan hidup di dalam rumah.

Madrasah pertama seorang anak adalah rumah. Guru pertamanya adalah orang tua. Kurikulum pertamanya adalah perilaku sehari-hari.

Nikah dan Penjagaan Nasab

Islam memuliakan pernikahan dan menjaga nasab melalui nikah. Seorang anak berhak dilahirkan dalam kejelasan, kemuliaan, tanggung jawab, dan struktur keluarga yang sah. Nikah bukan sekadar perayaan. Ia adalah perjanjian suci dengan konsekuensi hukum, emosional, sosial, dan spiritual.

Melalui nikah, hubungan intim menjadi halal dan bahkan dapat menjadi ibadah ketika dijalani dengan niat yang benar serta dalam batas-batas Allah. Islam tidak memandang keintiman suami istri sebagai sesuatu yang memalukan. Sebaliknya, Islam mengajarkan bahwa bahkan momen-momen pribadi pun seharusnya terhubung dengan mengingat Allah.

Mengingat Allah Sebelum Berhubungan Intim

Di antara adab penting dalam pernikahan adalah doa sebelum hubungan intim yang halal. Ibnu Abbas رضي الله عنهما meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan doa:

“Bismillah, Allahumma jannibna-sh-shaytan, wa jannibi-sh-shaytana ma razaqtana.”

Maknanya adalah memohon kepada Allah agar menjauhkan setan dari pasangan tersebut dan dari apa yang mungkin Dia karuniakan kepada mereka. Riwayat ini terdapat dalam Sahih al-Bukhari 6388. (Sunnah)

Sunnah ini mengingatkan pasangan bahwa anak diciptakan dengan ketetapan Allah dan bahwa perlindungan ruhani dimulai bahkan sebelum anak itu terbentuk. Banyak orang tua menyiapkan pakaian, nama, kamar, dan jadwal pemeriksaan medis, tetapi mengabaikan tuntunan kenabian yang berkaitan dengan awal kehidupan berkeluarga.

Pasangan Muslim seharusnya menghidupkan kembali Sunnah ini dengan kerendahan hati dan kesungguhan.

Kehamilan sebagai Musim Ibadah dan Doa

Kehamilan bukan sekadar proses biologis. Ia juga merupakan masa perenungan, ibadah, kesabaran, dan doa. Seorang ibu mengandung kehidupan dengan izin Allah. Tubuhnya berubah, emosinya bergeser, dan kekuatannya bisa diuji. Ini adalah kesulitan yang mulia.

Baik bagi ibu hamil untuk terus menjalankan Sunnah umum berupa zikir harian, Al-Qur’an, doa, salat, dan mengingat Allah sesuai kemampuannya.

Sang ibu dapat memohon kepada Allah agar dikaruniai anak yang saleh, hati yang sehat, ilmu yang bermanfaat, akhlak yang baik, perlindungan dari setan, dan keteguhan di atas Islam. Doa lirih yang dipanjatkan di tengah kelelahan bisa sangat berharga.

Ayah juga seharusnya berdoa, memberikan dukungan, mencari rezeki yang halal, dan mempersiapkan dirinya untuk memikul tanggung jawab.

Tanggung Jawab Ayah Sebelum Kelahiran

Peran ayah tidak dimulai setelah persalinan. Ia dimulai sebelum kelahiran. Ia harus mendukung ibu, menjaga rumah, memberi nafkah dari jalan yang halal, dan mempersiapkan dirinya untuk memimpin dengan penuh kasih.

Seorang ayah yang mengira satu-satunya kewajibannya hanyalah memberi nafkah telah keliru memahami makna menjadi ayah. Nafkah memang penting, tetapi bimbingan juga penting. Seorang anak membutuhkan ayah yang hadir secara ruhani, hadir secara emosional, dan hadir secara moral.

Nabi ﷺ bersabda bahwa setiap orang adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas mereka yang berada di bawah asuhannya. Dalam hadis yang sama, beliau secara khusus menyebutkan bahwa seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan bertanggung jawab atas mereka, dan bahwa seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya serta bertanggung jawab atas mereka. Ini diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari 7138 dan Sahih Muslim 1829. (Sunnah)

Hadis ini seharusnya membuat kedua orang tua waspada. Menjadi orang tua bukanlah sikap pasif. Ini adalah penggembalaan.

Menyambut Kelahiran Bayi dengan Syukur

Ketika seorang anak lahir, keluarga Muslim seharusnya menyambutnya dengan rasa syukur kepada Allah. Baik anak itu laki-laki maupun perempuan, seorang mukmin menerima ketetapan Allah dengan kerelaan. Anak perempuan bukan kekecewaan. Anak laki-laki bukan jaminan kesalehan. Keduanya adalah karunia, dan keduanya adalah ujian.

Islam datang untuk menghapus kebodohan yang merendahkan anak perempuan. Kelahiran seorang anak perempuan tidak boleh diperlakukan sebagai kesalahan ibu atau alasan untuk bersedih. Allah menganugerahkan anak laki-laki dan perempuan sesuai dengan hikmah-Nya.

Bayi yang baru lahir seharusnya disambut dengan zikir, doa, kelembutan, dan rasa syukur — bukan dengan kesombongan, kemewahan berlebihan, atau persaingan budaya.

Tahnik: Sunnah untuk Bayi Baru Lahir

Di antara amalan Sunnah yang berkaitan dengan bayi yang baru lahir adalah tahneek. Ini dilakukan dengan melunakkan kurma lalu mengoleskan sedikit darinya pada langit-langit mulut bayi. Sahih Muslim 2146b menyebutkan anjuran tahnik bagi bayi yang baru lahir dan juga menyebutkan penamaan anak pada hari kelahirannya. (Sunnah)

Tahnik menghubungkan saat-saat pertama kehidupan seorang anak dengan tuntunan kenabian. Ia mengingatkan keluarga bahwa Sunnah hadir dalam setiap bagian kehidupan: kelahiran, pemberian nama, makan, tidur, pernikahan, ibadah, dan pengasuhan.

Kaum Muslimin tidak seharusnya merasa malu terhadap Sunnah. Petunjuk tidak diukur dengan mode, tren, atau persetujuan zaman modern. Petunjuk adalah apa yang Allah wahyukan dan apa yang diajarkan oleh Rasul-Nya ﷺ.

Memberi Anak Nama yang Baik

Seorang anak memiliki hak atas nama yang baik. Nama membawa makna, jati diri, dan bobot emosional. Nama yang baik dapat mengingatkan seorang anak pada penghambaan kepada Allah, kemuliaan para nabi, atau akhlak yang saleh.

Orang tua seharusnya menghindari nama-nama yang bermakna rusak, bermakna sombong, atau memiliki kaitan yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Nama tidak seharusnya dipilih hanya karena terdengar indah. Nama harus memiliki makna yang baik.

Sahih Muslim 2146b mencakup penyebutan penamaan anak pada hari kelahirannya dan anjuran nama-nama seperti Abdullah, Ibrahim, dan nama-nama para nabi. (Sunnah)

Nama Muslim dapat menjadi pengingat seumur hidup tentang jati diri, rasa memiliki, dan ibadah.

Akikah: Syukur Melalui Penyembelihan

aqeeqah adalah amalan Sunnah yang berkaitan dengan kelahiran seorang anak. Ini adalah wujud syukur kepada Allah dan sarana untuk berbagi kebahagiaan melalui penyembelihan yang halal dan kemurahan hati.

Rujukan yang kuat tentang akikah adalah Sahih al-Bukhari 5472, ketika Nabi ﷺ menyebutkan pelaksanaan akikah untuk bayi laki-laki yang baru lahir. (Sunnah) Sunan Abi Dawud 2838 menyebutkan bahwa penyembelihan dilakukan pada hari ketujuh, kepala anak dicukur, dan anak diberi nama. (Sunnah) Jami’ at-Tirmidhi 1513 meriwayatkan keterangan bahwa dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. (Sunnah)

Akikah mengajarkan bahwa perayaan dalam Islam seharusnya terhubung dengan rasa syukur, ibadah, dan kemurahan hati.

Fitrah Setiap Anak

Nabi ﷺ bersabda bahwa setiap anak dilahirkan di atas fitrah, kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Hadis ini terdapat dalam Sahih al-Bukhari 1358. (Sunnah)

Hadis ini sangat mendasar dalam pengasuhan Islam. Seorang anak tidak dilahirkan dalam keadaan kosong secara ruhani. Anak dilahirkan di atas tabiat alami yang mengenal Allah. Namun keluarga dan lingkungan sangat memengaruhi bagaimana fitrah itu dipelihara, ditimbun, diselewengkan, atau dijaga.

Orang tua harus memahami hal ini dengan sungguh-sungguh. Mereka bukan pengaruh yang netral. Pilihan-pilihan mereka membentuk pemahaman anak tentang kebenaran, ibadah, rasa malu, akhlak, dan jati diri.

Orang Tua sebagai Sekolah Iman yang Pertama

Sebelum anak-anak masuk sekolah formal, mereka sudah lebih dahulu mempelajari orang tua mereka. Mereka memperhatikan bagaimana orang tua mereka berbicara, berdebat, salat, membelanjakan harta, memaafkan, bereaksi, dan bertobat.

Seorang ayah yang berdusta mengajarkan dusta, meskipun ia berceramah tentang kejujuran. Seorang ibu yang menggunjing mengajarkan gunjingan, meskipun ia memperingatkan agar tidak berakhlak buruk. Orang tua yang menunda salat tanpa rasa peduli mengajarkan bahwa salat itu urusan kedua, meskipun mereka mengaku Islam itu penting.

Anak-anak menyadari pertentangan. Hati mereka merekamnya.

Karena itu, orang tua tidak cukup hanya memerintahkan Islam. Mereka harus menjalani Islam.

Pentingnya Lingkungan

Lingkungan memiliki pengaruh yang sangat kuat. Seorang anak dipengaruhi oleh keluarga, tetangga, sekolah, teman, media, konten daring, kerabat, dan kehidupan masyarakat. Orang tua tidak dapat mengendalikan segalanya, tetapi mereka tidak boleh lalai terhadap apa yang masih bisa mereka kendalikan.

Seorang anak yang dikelilingi orang-orang saleh lebih besar kemungkinannya untuk mendengar ucapan yang bermanfaat, menyaksikan akhlak yang baik, dan melihat Islam diamalkan. Seorang anak yang dikelilingi kerusakan bisa perlahan-lahan menjadi akrab dengan dosa, kekasaran, kesombongan, hilangnya rasa malu, dan kelalaian.

Prinsip Islam bukanlah paranoia. Ia adalah penjagaan.

Memilih Lingkungan Tempat Tinggal yang Saleh

Bijak bagi keluarga Muslim untuk mempertimbangkan lingkungan moral dan keagamaan sebelum memilih rumah. Ini sebaiknya disampaikan sebagai nasihat Islam yang praktis, bukan sebagai redaksi hadis secara langsung kecuali jika ada riwayat sahih yang disebutkan.

Rumah yang indah di lingkungan yang merusak secara ruhani bisa menjadi berbahaya bagi keluarga. Rumah yang lebih sederhana di dekat orang-orang saleh, masjid, dan pergaulan yang baik bisa jadi lebih baik bagi agama anak.

Allah ﷻ berfirman:

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka...”
Al-Qur’an 11:113 (Korpus Bahasa Arab Al-Qur’an)

Ayat ini mengingatkan kaum Muslimin agar berhati-hati terhadap lingkungan yang menormalkan kemungkaran dan melemahkan keterikatan hati kepada Allah.

Melindungi Anak dari Pengaruh yang Merusak

Anak-anak dipengaruhi oleh apa yang berulang kali mereka lihat dan dengar. Hiburan, media sosial, permainan, musik, selebritas, teman sebaya, dan tokoh daring sering kali membawa nilai-nilai tertentu. Semua itu mengajarkan kepada anak apa yang patut dikagumi, apa yang pantas ditertawakan, apa yang layak diinginkan, dan apa yang harus ditiru.

Orang tua harus berhati-hati terhadap media dan hiburan yang menormalkan kemaksiatan, hilangnya rasa malu, kesombongan, olok-olok terhadap agama, atau kekaguman pada gaya hidup penuh dosa.

Teladan dan Pembentukan Jati Diri

Anak-anak meniru apa yang mereka kagumi. Jika pahlawan mereka adalah orang-orang yang mengagungkan dosa, kesombongan, syahwat, kerakusan, dan pembangkangan, anak bisa mulai memandang pengendalian diri dalam Islam sebagai sesuatu yang aneh. Namun jika pahlawan mereka adalah para nabi, para sahabat, para ulama, ahli ibadah, orang-orang dermawan, dan orang-orang pemberani, imajinasi mereka akan dipenuhi kemuliaan.

Orang tua hendaknya secara aktif mengenalkan kepada anak kisah-kisah para nabi, sirah Nabi ﷺ, para sahabat, dan kaum Muslimin yang saleh. Seorang anak membutuhkan teladan keagungan yang berakar pada iman, bukan kesia-siaan.

Orang tua Muslim harus menyeleksi siapa yang menjadi pahlawan bagi anaknya.

Bersikap Adil di Antara Anak-Anak

Islam memerintahkan keadilan di antara anak-anak. Orang tua harus berhati-hati agar tidak menumbuhkan rasa dengki melalui sikap pilih kasih dalam hadiah, perhatian, kasih sayang, kesempatan, atau kepedulian terhadap agama.

Nabi ﷺ bersabda:

“Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anak kalian.”

Ini diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari 2587 pada hadis An-Nu’man ibn Bashir رضي الله عنه. (Sunnah)

Adil tidak selalu berarti perlakuan yang sama persis dalam setiap urusan praktis, karena anak-anak bisa memiliki kebutuhan yang berbeda. Namun hati dan sikap orang tua harus tetap adil. Anak laki-laki maupun perempuan sama-sama harus mendapatkan pendidikan agama, perhatian emosional, pembinaan akhlak, dan nafkah yang adil.

Pendidikan Agama sebagai Kewajiban Orang Tua

Pendidikan agama bukan sesuatu yang opsional. Ia bukan hiasan akhir pekan. Ia bukan sesuatu yang bisa sepenuhnya diserahkan kepada imam, sekolah Islam, atau guru daring.

Seorang anak harus mempelajari tauhid, salat, wudu, Al-Qur’an, doa, cinta kepada Nabi ﷺ, akhlak yang baik, halal dan haram, rasa malu, kejujuran, dan pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Pendidikan ini harus diberikan dengan hangat, bijak, konsisten, dan sesuai usia. Kekerasan dapat membuat agama terasa seperti hukuman. Kelalaian dapat membuat agama terasa tidak relevan. Jalan kenabian adalah rahmat yang tegas, cinta yang jelas, dan pengajaran yang sabar.

Pendidikan Dunia tanpa Melalaikan Akhirat

Islam tidak menentang pendidikan dunia yang bermanfaat. Umat Islam membutuhkan dokter, insinyur, guru, pembangun, penulis, pemilik usaha, dan tenaga profesional yang terampil. Keunggulan adalah sesuatu yang terpuji bila dikejar dengan niat yang halal dan dalam batas-batas yang benar.

Namun pendidikan dunia tidak boleh melahap pendidikan agama.

Seorang anak yang unggul di sekolah tetapi tidak bisa salat dengan benar berarti telah dirugikan. Seorang anak yang menguasai bahasa akademik tingkat lanjut tetapi tidak mengetahui dasar-dasar tauhid berarti telah diabaikan. Seorang anak yang bersiap menghadapi ujian tetapi tidak pernah bersiap menghadapi kubur berarti telah diajari ketimpangan yang berbahaya.

Akhirat lebih panjang daripada kehidupan ini. Kubur lebih pasti daripada kelulusan. Jannah lebih agung daripada karier apa pun.

Ayah sebagai Penggembala

Seorang ayah Muslim bukan sekadar pencari nafkah. Ia adalah penggembala. Kepemimpinannya harus penuh kasih, hadir, melindungi, dan bertanggung jawab.

Ia harus mengetahui teman-teman anaknya, kegelisahan mereka, kebiasaan mereka, kekuatan dan kelemahan mereka. Ia harus membantu mereka mencintai salat, menghadiri masjid, menghormati ibu mereka, berkata jujur, dan menjauhi yang haram.

Seorang ayah yang absen dari hati anak-anaknya bisa kehilangan pengaruh atas mereka. Pada saat itu, orang asing, layar, dan teman sebaya menjadi penuntun mereka.

Menjadi ayah tidak cukup hanya dengan membayar tagihan.

Ibu sebagai Penjaga dan Pengasuh

Seorang ibu memiliki peran besar dalam membentuk hati anak. Kelembutannya, ibadahnya, kesabarannya, ucapannya, koreksinya, dan doanya meninggalkan bekas yang dalam. Banyak orang saleh dibentuk oleh ibu-ibu salehah yang pengorbanannya tersembunyi dari pandangan manusia, tetapi diketahui oleh Allah.

Pada saat yang sama, Islam tidak meletakkan seluruh beban hanya di pundak ibu. Hadis tentang penggembalaan menyebutkan tanggung jawab bagi laki-laki dan perempuan dalam amanah mereka masing-masing. (Sunnah)

Membesarkan anak adalah misi bersama. Ayah dan ibu harus saling bekerja sama dalam kebajikan dan takwa.

Disiplin dengan Kasih Sayang

Anak-anak membutuhkan disiplin, tetapi disiplin dalam Islam bukanlah kekejaman. Ia bukan penghinaan, kemarahan yang tak terkendali, celaan, atau kekasaran. Disiplin berarti mengajarkan pengendalian diri, adab, tanggung jawab, dan kesadaran akan Allah.

Orang tua harus menghindari dua sikap yang berlebihan: otoritarianisme yang keras dan sikap serba membolehkan yang ceroboh. Kekerasan bisa melahirkan ketakutan, kemunafikan, atau kebencian. Sikap serba membolehkan bisa melahirkan rasa berhak dan kelalaian ruhani.

Jalan yang seimbang adalah kasih sayang yang tegas. Batasan yang jelas. Koreksi yang penuh cinta. Harapan yang konsisten. Keteladanan yang baik. Doa yang terus-menerus.

Seorang anak harus tahu bahwa aturan ada karena Allah itu penting, jiwa itu penting, dan akhlak itu penting.

Membesarkan Anak di Tengah Masyarakat yang Longgar Secara Moral

Membesarkan anak-anak Muslim di tengah masyarakat yang longgar secara moral menuntut kewaspadaan. Banyak masyarakat menormalkan apa yang diharamkan Islam dan mengejek apa yang dimuliakan Islam. Menutup aurat bisa dianggap kuno. Ketaatan kepada Allah bisa digambarkan sebagai pengekangan. Hiburan bisa memperindah hilangnya rasa malu. Konsumerisme bisa mengajarkan anak untuk mengejar keinginan tanpa kendali.

Pola asuh yang pasif berbahaya dalam lingkungan seperti ini.

Orang tua harus membangun rasa percaya diri keislaman pada anak-anak mereka. Anak-anak tidak boleh merasa rendah diri karena menjadi Muslim. Mereka harus memahami, sesuai dengan usia mereka, mengapa Islam mengajarkan apa yang diajarkannya. Mereka membutuhkan kasih sayang, percakapan, kebersamaan dengan sesama Muslim, keterikatan dengan masjid, dan rumah tempat Islam diamalkan dengan indah.

Masyarakat yang serba longgar mungkin riuh, tetapi rumah Muslim yang tulus tetap dapat memancarkan cahaya.

Pertanyaan yang Harus Dipersiapkan Setiap Orang Tua

Setiap orang tua seharusnya membayangkan dirinya berdiri di hadapan Allah dan ditanya tentang anak-anak yang diamanahkan kepada mereka.

Apa yang engkau ajarkan kepada mereka?
Apa yang engkau biarkan masuk ke dalam hati mereka?
Apakah engkau melindungi mereka dari kerusakan yang nyata?
Apakah engkau memberi mereka makan dari yang halal?
Apakah engkau mencontohkan salat?
Apakah engkau membuat Islam dicintai?
Apakah engkau memperlakukan mereka dengan adil?
Apakah engkau mendoakan mereka?
Apakah engkau mengutamakan surga mereka atau hanya keberhasilan duniawi mereka?

Pertanyaan-pertanyaan ini seharusnya membangunkan hati sekarang, sebelum datangnya pertanyaan terakhir.

Anak Saleh sebagai Pahala yang Terus Mengalir

Anak yang saleh adalah salah satu warisan terindah yang dapat ditinggalkan seorang mukmin. Harta bisa lenyap. Bangunan bisa runtuh. Nama baik bisa pudar. Namun anak saleh yang mendoakan orang tuanya adalah sebuah harta yang sangat berharga.

Nabi ﷺ mengajarkan bahwa anak saleh yang mendoakan orang tuanya termasuk di antara amal yang manfaatnya terus berlanjut setelah kematian. Hal ini diriwayatkan dalam Sahih Muslim 1631. (Abuamina Elias)

Inilah sebabnya pengasuhan harus dijalani dengan kesengajaan dan kesadaran. Orang tua Muslim bukan sekadar membesarkan calon pegawai, pelajar, pasangan, atau warga negara di masa depan. Orang tua Muslim sedang membesarkan seorang hamba Allah.

Penutup: Mengasuh Anak karena Allah

Memiliki anak dalam Islam adalah nikmat yang sangat besar sekaligus tanggung jawab yang berat. Ini dimulai sebelum kelahiran, bahkan sebelum pernikahan, melalui pilihan pasangan yang saleh dan pembentukan rumah tangga di atas takwa. Lalu berlanjut melalui hubungan suami istri yang halal, zikir kepada Allah, masa kehamilan, kelahiran, tahnik, pemberian nama, akikah, pendidikan, disiplin, lingkungan, keadilan, dan bimbingan sepanjang hayat.

Anak-anak dilahirkan di atas fitrah. Lalu orang tua dan lingkungan membentuk mereka. Ini seharusnya membuat setiap ibu dan ayah merasa rendah hati.

Orang tua Muslim harus merencanakan bukan hanya sekolah, karier, pernikahan, dan kestabilan finansial, tetapi juga kedudukan anak di hadapan Allah. Keberhasilan terbesar bukanlah ketika seorang anak dikagumi manusia, melainkan ketika anak itu menjadi dicintai Allah.

Semoga Allah menganugerahkan kepada para orang tua Muslim pemahaman yang mendalam tentang agama-Nya. Semoga Dia memberkahi mereka dengan pasangan yang saleh, rumah tangga yang saleh, anak-anak yang saleh, dan keturunan yang saleh. Semoga Dia melindungi keluarga-keluarga kita dari setan, lingkungan yang merusak, dan kelalaian. Semoga Dia menjadikan anak-anak kita penyejuk mata, pembawa tauhid, pengikut Sunnah, dan penghuni surga.

SubhaanakAllaahumma wa bihamdik, ash-hadu an laa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atoobu ilayk.


Rujukan

  1. Al-Qur’an 66:6 — perintah untuk melindungi diri sendiri dan keluarga dari Neraka. (Quran.com)

  2. Al-Qur’an 11:113 — peringatan agar tidak condong kepada orang-orang zalim. (Quranic Arabic Corpus)

  3. Sahih al-Bukhari 6388 — doa sebelum hubungan suami istri. (Sunnah)

  4. Sahih al-Bukhari 1358 — setiap anak dilahirkan di atas fitrah. (Sunnah)

  5. Sahih Muslim 2146b — tahnik dan pemberian nama kepada bayi yang baru lahir. (Sunnah)

  6. Sahih al-Bukhari 5472 — akikah untuk bayi yang baru lahir. (Sunnah)

  7. Sunan Abi Dawud 2838 — akikah pada hari ketujuh, mencukur kepala, dan pemberian nama. (Sunnah)

  8. Jami’ at-Tirmidhi 1513 — dua kambing untuk anak laki-laki dan satu kambing untuk anak perempuan. (Sunnah)

  9. Sahih al-Bukhari 2587 — keadilan di antara anak-anak. (Sunnah)

  10. Sahih al-Bukhari 7138 / Sahih Muslim 1829 — setiap orang adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas orang-orang yang berada dalam asuhannya. (Sunnah)

  11. Sahih Muslim 1631 — anak saleh yang mendoakan orang tuanya setelah kematian. (Abuamina Elias)

  12. Sumber asli: Ibraheem Abubakr Amosa, “Membesarkan Anak Muslim … di Tengah Masyarakat yang Longgar.” (academia.edu)

Artikel terkait